Elis Rosidah Mardiah
Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur. Mimpi merupakan kata sederhana, tapi menyimpan gelora raksasa. Ia mengalir lembut dalam pikiran, tapi meledak dan berkecamuk dalam jiwa, dapat menjadi penyemangat dan penguat harapan saat kita mengharap sesuatu yang dicita-citakan termasuk mimpiku terhadap negeri ini.
Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya
(Laskar pelangi, Nidji)

Mimpi merupakan sebuah kunci. Ya, begitulah kekuatan lirik lagu ini yang semakin memperkuat keyakinan kita untuk menggapai mimpi-mimpi kita dengan tanpa keraguan demi Indonesia yang lebih baik.
The Power of dreams adalah kata yang harus selalu terpatri di dalam jiwa. Jangan sekedar jadi pemimpi tetapi meyakini bahwa kenyataan  hari ini adalah mimpi hari kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.
Mungkinkah Indonesia dapat bangkit?  Pertanyaan ini sangat penting karena menyangkut masa depan dan cita-cita semua rakyat Indonesia. Mungkinkah Indonesia dapat bangkit? Sangat mungkin dan itu pasti! Rasanya siapapun tak akan menyangkal, bahwa Indonesia dapat bangkit dan meraih cita-cita, keinginan dan impiannya yang belum menjadi kenyataan. Dulu, Bangsa kita pernah bangkit, berkali-kali. Tapi kebangkitan yang paling prestisius dalam sejarah adalah saat kemerdekaan 1945. Sejak saat itu pula kita bebas menjadi negara yang tidak dijajah dan didikte negara lain. Namun Setelah itu, tak ada lagi kebangkitan mensejarah yang diciptakan oleh bangsa ini. Hanya satu penjelasannya, karena mimpi tentang MERDEKA, adalah satu-satunya mimpi manusia Indonesia kala itu. Energi mimpi tentang MERDEKA telah merasuk ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Bagaikan virus, ia menguasai pikiran, hati, kesadaran, bahkan mimpi-mimpi di dalam tidur setiap orang Indonesia. Pekik suara merdeka dimana-mana. Untaian dan do’a rakyat untuk MERDEKA selalu terpanjat setiap saat. Mereka tak pernah menghitung berapa nyawa yang harus melayang. Mereka tak pernah pusing dan mengeluhkan berapa deras darah yang harus mengalir. Mimpi tentang merdeka selalu menjadi nyanyian sunyi setiap langkah gerak perjuangan mereka saat itu. Dan Dari mimpi itulah kita lahir. Dari kubangan nyawa itulah kita bangkit. Dari tetes-tetes darah itulah kita hidup dan bebas dari penjajahan.
Dan setelah itu mimpi-mimpi Indonesia pun berhenti, keadaan saat ini berbalik 180o Bangsa kita seperti tak pernah bisa untuk mampu menyatukan mimpi-mimpinya seperti dulu. Dan disaat seperti inilah sebenarnya Ibu pertiwi sedang menanti bangkitnya anak-anak negeri ini untuk mulai membangun sebuah mimpi yang sama, lalu bangkit dalam gelora jiwa yang menyala dan membawa Indonesia ke tempat terhormat diantara bangsa-bangsa lain di dunia. Aku ingin termasuk dalam lingkaran anak-anak negeri yang selalu bermimpi untuk Ibu Pertiwi.
Aku bermimpi untukmu Indonesiaku..
Aku tidak ingin bangsa Indonesia hanya merdeka dari segala bentuk penjajahan, tetapi aku ingin bangsaku merdeka untuk mengisi segala bentuk kehidupan ke arah perdamaian abadi dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dibawah Ini adalah beberapa dari sejuta mimpi besarku terhadap Indonesia.

Aku bermimpi,
Para pemimpin negeriku adalah negarawan yang berwawasan politik penyejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan sekumpulan oportunis politik kekuasaan yang memburu rente dan memiskinkan daya hidup seluruh rakyat Indonesia.

Aku bermimpi,
Bermimpi tentang kemerdekaan yang sebenarnya. dimana setiap rakyat negeriku terbebas dari tekanan kekuasaan, kongkalikong politik yang busuk, warga Negara yang hidup dalam rasa aman, terbebas dari kecemasan untuk mendapat nafkah yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia.

Aku bermimpi,
Memang hidup ini keras namun Aku tidak ingin melihat anak-anak kecil dijalanan trotoar itu berpeluh keringat, berbasah air hujan dengan sebuah pakaian kumal dan menabrak asap kendaraan, untuk merelakan masa kecilnya hilang ditelan kerasnya kehidupan. Tak kulihat lagi mereka di jalanan dengan menengadahkan tangan, meminta sekedar keikhlasan recehan dari kantung tuan dan nyonya yang melintas. Aku ingin melihat mereka tertawa riang bermain bersama teman-teman sebaya dan bercanda manja dengan orangtuanya serta mengenyam pendidikan yang layak agar kelak mereka menjadi generasi emas nan cerdas yang akan membangun bangsa ini selanjutnya.

Aku bermimpi,
Warga di negeri ini sadar  untuk tidak membuang sampah ke sungai. Aku bermimpi sungai-sungai yang melintas airnya bening dan bersih, tak lagi penuh dengan berbagai jenis sampah dan tak tercium lagi bau apak menyengat hasil peruraian biota air limbah. Hingga saatnya musim penghujan tiba, tak lagi kutemui berita-berita di layar televisi yang mengabarkan tentang musim banjir. Tidak ada lagi musim itu. Air hujan hanya lalu.

Aku bermimpi,
Aku dapat menatap senyum setiap penghuni negeri ini tanpa adanya kerutan didahi yang seolah terbeban dengan kondisi kehidupan yang dihadapi tentang harga-harga yang naik, tentang kondisi ekonomi yang carut marut, tentang ambisi seseorang yang menghalalkan segala cara demi sebuah kepentingan pribadi yang tega menginjak-injak harga diri orang demi tujuan hidupnya terpenuhi.

Aku bermimpi,
Orang Indonesia menjadi panglima atas ekonomi Indonesia dibidang apapun dengan tercapainya Kemerdekaan Ekonomi. Aku membayangkan betapa majunya Indonesia apabila mimpi Bung Karno yang sempat dibicarakan di Istana negara bersama Chaerul Saleh, Achmadi, Djuanda Kartawidjaja, Ibnu Soetowo dan Jenderal Nasution, pada tahun 1960 tentang  politik minyak bumi nasional tercapai. Beliau berkata seperti ini “Aku ingin Permina menjadi Perusahaan minyak raksasa, perusahaan yang mampu berdikari, mampu menopang perekonomian Indonesia, Permina bisa digunakan sebagai alat pertama dalam membangun ekonomie Indonesia, seluruh perusahaan minyak asing yang ada di Indonesia ini saya tekan harus bantu Permina, selain bisa ngebor minyak sendiri, membangun rafinerij-nya (rafinerij =kilang, bahasa Belanda), juga mampu membangun jaringan distribusinya, dari situ kemudian terbentuk Pasar bangsa sendiriNamun Kini aku hanya mengelus dada, melihat SPBU-SPBU asing itu menguasai pinggir-pinggir jalan raya, bahkan untuk menguasai pasar retail saja orang Indonesia tidak bisa menjadi Panglima-nya. Kini orang Indonesia dipaksa beli Pertamax oleh pemerintahan budak asing ini, padahal persediaan Premium masih berlimpah, Pemerintah hanya ingin jual Premium ke pasar spekulasi, banyak orang Indonesia susah karena didikte atas kemauan Pasar Bebas. Benar kata Bung Hatta di masa lampau di tahun 1954 ketika berpidato di depan Pabrik Tekstil milik pengusaha Indonesia yang baru aja diresmikan sendiri oleh Bung Hatta “Apalah arti Kemerdekaan bila orang Indonesia tak punya hak-hak ekonomie-nya?”

Aku bermimpi,
Indonesia mempunyai Sumber Daya Manusia yang luar biasa untuk bisa mengola sumber-sumber alam dengan sebaik-baiknya. Karena bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran serta kesejahteraan rakyat Indonesia.

Aku bermimpi,
Para pemimpin memangku jabatannya dengan penuh rasa tanggungjawab, terhadap negara dan agamanya. Mimpi ku selanjutnya adalah Indonesia bebas dari KORUPSI. 68th sejak Indonesia merdeka, selain terjadi banyak perubahan dan kemajuan, ada satu hal paling menonjol. Apa itu? Perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia disegala bidang yang semakin bergandeng erat dengan satu hal yaitu korupsi. Virus korupsi telah mewabah di negeri ini, bahkan carut marut korupsi membuat si buta dari gua hantu jadi melihat kembali atau mungkin superman yang terbang akan terjatuh, karena udara Indonesia tercemar hawa korupsi. Saat ini, korupsi tidak lagi menjadi bagian penyakit dari para pejabat, petinggi atau politisi saja, tetapi telah menyebar dan merasuki tatanan kehidupan masyarakat umum Indonesia. Oleh karena itu, bila hal tersebut terus dibiarkan menyebar dan menjangkiti seluruh bangsa ini itu artinya Indonesia tinggal bersiap untuk tersungkur ke jurang hutang berkepanjangan di atas kekayaan alamnya yang melimpah.

Aku bermimpi,
Indonesia damai, aman dan sejahtera tanpa kekerasan, baik itu kekerasan terhadap anak, kekerasan seksual, kekerasan tawuran antar pelajar atau mahasiswa dan sebagainya. Aku ingin mereka damai dan saling menghargai satu sama lainnya.

Aku bermimpi,
Mimpi tentang sepakbola yang lebih baik lagi di suatu masa, dan puncak dari mimpi itu mendengar suara Indonesia Raya mengaung di Piala dunia. Melihat, setiap pemain mengenakan lambang garuda di dadanya. Lalu, mereka bermain dengan segala kebanggaan, mengharumkan nama Indonesia di kancah sebesar itu. Jika itu tercapai, sudah pasti akan membuat kita semua bangga dan tersenyum seolah mendapat obat yang sangat mujarab atas penantian yang begitu lama. Selain itu aku ingin melihat mereka, para suporter klub sepakbola saling merangkulkan tangan setelah usai pertandingan. Meski salah satu diantara jagoan mereka dikalahkan yang lainnya. Tapi semuanya gembira. Tak ada baku hantam, lempar batu, caci maki yang mericuhkan suasana pertandingan.  Semuanya gembira, meski tersisa kekecawaan di antara mereka.

Aku bermimpi,
Indonesia menjadi negara maju dan seluruh warga negara mencintai budayanya sendiri serta turut menjaga dan melestarikan, tidak terpengaruh oleh budaya asing yang sudah menembus tanah air melalui food, fun and fashion.

            Itulah mimpi-mimpi besarku untuk negeri ini. Berharap suatu saat nanti bisa tercapai, Amin. Aku menyadari saat ini, Indonesia memang sedang terpuruk. Ibu pertiwi memang sedang menangis terhadap kehormatan bangsa kita yang diinjak-injak dan terhadap hukum kita yang diperjualbelikan serta terhadap rakyat kita yang jadi budak di tanahnya sendiri. Tapi itu bukan alasan untukku untuk berhenti BERMIMPI.

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu 

(Arai, Sang Pemimpi)


DAFTAR PUSTAKA

Mimpi, http://id.wikipedia.org/wiki/Mimpi [Diakses tanggal 25 april 2014]

Putri, Istana.2008. Lirik Lagu Laskar Pelangi OST. Laskar Pelangi – Nidji. Tersedia: http://istanaputri.wordpress.com/2008/09/24/lirik-lagu-laskar-pelangi-ost-laskar-pelangi-nidji/ [Diakses tanggal  25 april 2014]

Hirata, Andrea.2008. Sang Pemimpi. Yogyakarta ; Bentang Pustaka

Nugrahanto HD, Anton.2012. Kemerdekaan Ekonomi. Tersedia: http://voiceofadiet.wordpress.com/2012/04/24/kemerdekaan-ekonomi/[Diakses tanggal 25 april 2014]

Selengkapnya……
Elis Rosidah Mardiah

I would like to tell you about my favorite song. The tittle is I believe I can fly by westlife.
The reason why I love this song is because this song is easy listening, beside that this song makes me spirit and become a power for me to fly and reach my dream.

I love this song, because the song always remind me that success just will come to people who always work hard and serious to make a dream come true. The success people are who don't feel lazy, who don't have rich family, who don't have sexy bodies, but the success people are persons who have high passion to be better and to change their life.

I love this song, because the song has important meaning for us that We can fly until high if in our hearts have a passion to create, never give up and want to accept crtical from another people.

SO, NEVER GIVE UP AND REACH YOUR DREAM AS HIGH AS POSSIBLE
Selengkapnya……
Elis Rosidah Mardiah
Broken heart usually have related to love, but today I won't tell about love. because I never broken heart with love.
Oke Guys..

Today I would like to tell you about broken heart with someone who's always disparage and talk about me at behind. She is My Neighbor.

Oneday, after I finished my study in junior high school, I have a dream for continue my study to favorite vocational high school in Ciamis and that location is so far from my home, it's about 1 hour. since the time I prepared about everything for continue my study.

Apperently, my neighbor knew my plan for continue my study. One thing that I really dislike from her is always talking behind my back and underestimate my ability.

I realize, I just have a simple familiy and my parents got no money to continue my study. that thing made me got underestimated again by my neighbor.

Since the time, I felt broken heart but it made me got motivation and passion to reach my dream become to be a hero for my familiy.
Selengkapnya……
Elis Rosidah Mardiah
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan
jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Referensi :
- http://chrissanta.wordpress.com
- http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html
Selengkapnya……